Ave Maria
Sebuah keluarga duduk didepan teras rumah, mereka
menanti-nanti kedatangan seorang pemuda, tiba-tiba adik Usup tertawa tergelak
sambil menjulurkan tangan ke arah jalan, ternyata seseorang dengan baju jas
yang robek-robek dibagian belakang tinggal hanya benang-benang saja, lagi
terkulai lemas seperti ekor kuda. Sambil tertawa dia memberi hormat dialah
Zulbahri yang dinanti-nanti akhirnya datang.
Zulbahri menceritakan kisah romannya ketika menikah dengan Wartini, dia sudah 8
bulan menikah namun belum juga mendapatkan anak. ternyata ada pria lain yang
dicintai oleh Wartini yaitu Syamsu, adik Zulbahri, Zulbahri mengetahui bahwa
Wartini dan Syamsu begitu saling mencintai. Zulbahri menceraikan Wartini dan
menjodohkan Wartini dengan Syamsu. Dan Zulbahri pergi ke medan perang untuk
membela nusa dan bangsanya.
Kejahatan Membalas Dendam
Seorang pemuda bernama Ishak, dia seorang pengarang dan
penerbit buku, dia pengarang dengan gaya roman, dan perempuan bernama
Satilawati, dia adalah tunangan Ishak, Satilawati mempunyai watak yang keras
kepala, hubungannya dengan Ishak tidak disetujui Suksoro, ayah Satilawati,
Suksoro adalah pengarang kolot pada era zaman Belanda dan kritikus terkenal
yang tajam, dia begitu ingin memisahkan hubungan Ishak dan Satilawati. Suksoro
memanggil seorang perempuan tua yang sangat sakti dalam hal memisahkan suatu
hubungan seseorang, dia adalah nenek Satilawati, namun Nenek Satilawati tidak
menyetujui permintaan Suksoro, karena Satilawati begitu mencintai Ishak.
Ternyata dibalik kepergian Ishak, karena temannya sendiri yang mencelakainya,
Kartili memberi obat gila kepada Ishak, agar Ishak meninggalkan Satilawati, dia
adalah seorang dokter. Asmadiputera adalah teman Ishak dia adalah Master in de
rechten, dia berusaha meyakinkan karangan roman Ishak adalah karangan pada era
baru saat ini. Akhirnya Ishak yang sempat gila berhasil disembuhkan oleh
perempuan tua, dan hubungan mereka disetujui oleh Suksoro, Kartili yang sempat
membuat Ishak gila, akhirnya menjadi gila.
Kota Harmoni
Trem penuh sesak dengan orang-orang dan bau keringat
ditambah bau terasi yang sangat tidak mengenakkan, datang seorang nona
Indo-Belanda yang mengeluh dengan bau terasi dari seorang wanita Tionghoa.
Wanita Tionghoa tersebut merasa tersinggung dan marah-marah kepada wanita
Indo-Belanda. Didalam Trem penuh sesak orang-orang berdesakan dan hampir sulit
menghirup udara segar, orang-orang berasa lega saat orang-orang turun, tetapi
kembali berdesakan saat orang-orang naik lagi, ditambah seorang Nippon yang
datang dengan gaya sok kuasa memerintah untuk memberi jalan, seorang anak muda
merasa jengkel terhadap orang Nippon tersebut, namun ketika didekati anak muda
tersebut hanya diam.
Konduktor meminta karcis saat tiba di Kota Harmoni, orang-orang banyak yang
sudah turun, di Trem sudah banyak orang yang mendapat tempat duduk. Beberapa
orang naik lewat jendela, orang-orang nippon ikut pula lewat jendela, orang
Indonesia menegur orang Nippon yang lewat jendela, mereka adu mulut hingga
akhirnya ada seorang Kenpetai yang memarahi Nippon tersebut, orang Indonesia
tersebut merasa senang akan kemenangannya.
Jawa Baru
Semua bahan-bahan pokok sangat mahal, orang-orang Indonesia
hanya mendapat seperlima liter beras sehari, namun orang-orang Nippon mendapat
jatah lebih banyak lima liter sehari, dijalanan orang-orang banyak yang
kelaparan lalu mati, namun pemerintah tetap bungkam, media massa hanya memberitakan
tentang perang dan perang, padahal mereka tahu dijalanan rakyat Indonesia
sedang kelaparan, di Jawa orang-orang sengsara, mereka kelaparan lalu mati.
Jawa Hokaido mengadakan rapat tentang penambahan pasokan beras tanpa melihat
keadaan rakyat Indonesia. Orang-orang Jawa hanya sabar menerima dengan lapang
dada.
Pasar Malam Zaman Jepang
Orang-orang berbondong-bondong ke pasar raya jika bantuan
Sendenbu, karena apapun bantuan Sendenbu selalu menarik, mereka berdesakan
membeli karcis. Pasar malam ada tempat gelap yang sepertinya disiapkan untuk
para pengunjung, dan ada tempat terang, di rumah makan terdengar bunyi musik,
di ruangan barisan propoganda diperlihatkan ban kapal tempur, dan baju bagor,
diruang main rolet orang-orang berjam-jam duduk, tak ada yang ribut, seperti
Ghandi, ia main rolet hingga menjual semua pakainnya hingga ia setengah
telanjang, namun pada akhirnya ia kalah. Beberapa hari kemudian ia gantung
diri.
Sanyo
Duduk seorang tukang kacang goreng, Kadir namanya, ia sudah
berjam-jam jualan namun keranjangnya masih penuh, ia hanya mendengar Radio
umum, tentang pecah sebagai ratna, Pengangkatan Sanyo, ia memaki-maki Sanyo
tanpa tahu arti kata Sanyo. Datang seorang tukang es lilin dan yang ingin
membeli kacang, Kadir disangka Kumico oleh tukang es lilin tersebut, ia pun
merasa sombong, Kadir masih memikirkan arti kata Sanyo. Datang seorang
laki-laki yang akan membeli kacang dengan harga 3 sen, Kadir bertanya tentang
arti Sanyo, laki-laki itu melempar kacang kepada Kadir dan pergi.
Kadir masih memikirkan tentang Sanyo, lalu ia merasa Sanyo itu adalah tukang
catut. Datang seorang laki-laki yang hendak membeli kacang, Kadir bertanya
kepada laki-laki tersebut. "apakah Sanyo itu tukang catut?". Mendengar
itu laki-laki itu marah dan membawa Kadir ke kantor polisi.
Fujinkai
Nyonya Sastra akan mengadakan rapat dikampung A, ia terlihat
sok sibuk. Nyonya Sastra membuka rapat, ia berbicara sangat lama, membuat
anggota yang datang merasa bosan, diantara para anggota ada yang pulang karena
kesal dengan pembicaraan Nyonya Sastra. Namun pada akhirnya para anggota
diminta uang seringgit untuk membuat kuwe-kuwe untuk perajurit Nippon, para
anggota merasa marah karena mengapa Nyonya Sastra bicara panjang lebar namun
pada akhirnya para anggota diminta sembangan.
Oh...Oh...Oh
Sukabumi terkenal dengan hawa dinginnya, namun orang-orang
mengantre beli karcis setengah mati kepanasan. Kereta api berangkat dari
Sukabumi menuju Jakarta, orang-orang di kelas dua dapat duduk dengan tenang,
namun orang-orang di kelas tiga dan empat berdesak-desakan, kereta berhenti di
sebuah stasiun kecil. Beberapa anak muda tak berpakaian masuk kereta, mereka
Keibodan yang memeriksa orang-orang yang membawa beras. Orang-orang yang
membawa beras dipukuli dan diambil berasnya, sebungkus beras tidak jadi diambil
karena milik Agen Polisi, anak-anak muda tersebut pergi. Agen Polisi tersebut
meminta beras kepada perempuan muda yang diselamatkan tadi agar berasnya aman
hingga di Jakarta, namun sesampai di Jakarta beras tersebut dibawa lari oleh
Agen Polisi, perempuan muda tersebut menangis hingga air matanya kering.
Heiho
Kartono orang yang rajin bekerja dikantornya, ia tetap
semangat meski gajinya kecil, belum sekali pun ia mangkir kerja namun
penghargaan belum juga ia dapatkan. Ia pun mencalonkan diri menjadi Heiho. Opas
pos memberinya sehelai surat bahwa ia lulus menjadi seorang Heiho.
Teman-temannya memberinya selamat.
Di asrama Heiho Kartono diberi pakaian Heiho, ia pulang dengan wajah gembira,
Kartono menyampaikan bahwa ia menjadi Heiho kepada istrinya, dengan berat hati
Miarti melepas Kartono untuk menjadi Heiho.
Kisah Sebuah Celana Pendek
Pada saat hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno merasa
senang karena mendapat celana kepar 1001 dari sang ayah. Kusno buta akan
politik, yang ia tahu hanya, setelah mendapat celana baru pekerjaan terbuka
baginya, Kusno melamar pekerjaan dimana-mana, namun pada akhirnya ia menjadi
seorang Opas pos yang hanya digaji 10 sen perbulan. Lama kelamaan celananya
mulai rusak, dan ia berhenti bekerja karena gajinya terlalu kecil. Kusno hidup
dalam kelaparan, ia berpikir mengapa selalu ada perang.
Surabaya
Orang-orang mabuk akan kemenangan, namun orang-orang
Indo-Belanda berani memasang bendera merah putih biru di hotel Yamato.
Orang-orang Indonesia tercengang, tiba-tiba seorang pemuda naik ke atastiang
bendera dan dirobeknya kain biru, orang-orang bertepuk tangan , namun
orang-orang Indo-Belanda marah dan menembaki orang-orang bak cowboy yang
memegang belati. Di Jakarta teriakan-teriakan membelah dua jantung rakyat,
mereka menganggap sekutu datang hanya untuk menganmbil tawanan-tawanan, sebelah
lagi masih mencurigai sekutu.Pertempuran di Jakarta membara, orang-orang harus
menyerahkan senjatanya kepada sekutu, namun mereka tidak mau menyerahkan
senjatanya kepada sekutu, akhirnya api kebakaran menjilat gedung-gedung dan
jiwa bangsa Indonesia.
Jalan-jalan di luar kota penuh dengan manusia, keanyakan perempuan, mereka
beralan sempoyongan
0 komentar:
Posting Komentar