Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 21 Februari 2015

Cerpen - Hujan & Kaktus


Dibalik tirai jendela, terlihat dia yang sedang menatap langit. Tidak begitu jelas. Embun-embun yang melapisi kaca membuat aku hampir tidak mengenali wajah itu. Matanya masih bersitatap dengan langit yang sedari tadi menumpahkan muatannya, membasahi setiap elemen semesta, membasahiku yang masih berdiri di sini. Seperti biasa, aku hanya bisa menatapnya dalam diamku. Aku ingin sekali menyapanya meski hanya sekedar say hello. Setidaknya aku ingin dia benar-benar menyadari ada aku yang memperhatikannya dari dulu, mengawasinya diam-diam. Tapi, Tuhan tidak mengijinkan itu terjadi.
Raya, nama gadis itu, wajahnya tidak terlalu cantik dalam standarku. Dia hanya sedikit manis. Dua lesung pipi mungil akan membekas di kedua sudut bibirnya kala ia tersenyum atau tertawa. Matanya tidak terlalu lebar dan bulat. Alisnya melengkung membingkai kedua mata mungil itu. Lentik bulu matanya akan memperlihatkan sisi lain indah dirinya saat ia memejamkan mata atau sekedar berkedip. Dia tidak cantik, hanya sedikit manis. Tetapi, bertahun seperti itu, faktanya aku selalu suka salah satu ciptaan Tangan Tuhan itu.
Sedikit demi sedikit embun yang melapisi kaca mulai meluntur ketika tangan Raya mengusapnya perlahan. Kini, aku bisa melihat dengan cukup jelas rona wajah gadis itu. Dia masih saja menatap langit yang tampaknya kini mulai mengabaikannya. Terkadang aku melihat tatapan gadis itu begitu tajam kepada langit. Seolah menantang. Terkadang yang kudapati adalah tatapan pasrah, seolah ia tidak tahu harus bagaimana melarang langit menumpahkan muatan setiap hari. Tidak jarang aku menangkap gelombang rindu yang terpancar dari tatapan matanya. Seolah langit sedang memutarkan sebuah film romantis di atas sana untuknya. Tetapi saat kucoba mengikuti arah mata itu tertuju, seluas mataku memandang yang ada hanya hamparan langit luas berwarna abu-abu, seperti saat ini.
Lalu hari ini, sinar tatapan Raya kepada langit memancarkan kerinduan. Kutengok langit di atas sana. Aku ingin tahu drama atau film romantis macam apa yang dipertontonkan di sana. Kulirik lagi Raya yang masih menyandarkan kepalanya pada lipatan tangannya sendiri dibalik kaca sedikit berembun itu. Ah, aku tahu! Pasti bocah itu lagi. Pasti karena Tora. Ya, tidak salah lagi! Aku tidak tahu bagaimana bocah seperti Tora itu bisa begitu memporakporandakan khayalan Raya tentang rasa dan cinta. Ya tentu saja aku tidak menduga sebelumnya. Aku sama sekali tidak menduga bahwa pertemuan pertama mereka di depan mataku saat itu benar-benar berhasil menorehkan semburat lain di hati Raya.
Pagi itu, Raya sedang bersepeda menuju rumahnya ketika Tora berdiri di depan pagar rumah kami. Begitu belok, Raya hampir saja menabrak bocah itu. Raya mengerem sepedanya sampai terdengar bunyi decitan yang cukup memekakkan telinga. Sementara Tora dengan tenangnya menatap Raya. Raya masih sibuk membersihkan kaos putihnya yang mulai terlihat lusuh akan tanah yang menempel ketika sebuah tangan terulur di depan wajahnya. Tentu saja bukan tanganku, tetapi tangan Tora. Selanjutnya aku tidak tahu topik macam apa yang mereka perbincangkan. Yang aku tahu, sejak hari itu Raya tidak pernah berhenti menatap langit saat gerimis atau hujan. Tebaklah apa yang ia minta. Hanya sederet kalimat panjang : berhentilah hujan, agar Tora tidak perlu bersembunyi darimu, agar Tora dengan mudahnya menemukan jalannya menujuku, agar Tora datang lagi.
Tetapi meski langit mengalah dan menahan diri, Tora tidak pernah datang lagi. Bahkan sekelebat bayangannya pun tidak. Tidak terdengar kabar secuilpun. Seolah Tora benar-benar menghilang dari dunia ini. Seolah Tora bukan bersembunyi dari hujan, tetapi ia bersembunyi dari dunia Raya. Sementara itu Raya mulai terbiasa bersitatap dengan hujan, mencari celah harapan agar pembawa hatinya kembali bertandang, mencari celah keajaiban bahwa Tora memang tertulis dan tercipta untuknya. Seminggu, dua minggu, sebulan, setahun, dua tahun, Tora tidak pernah lagi terlihat. Aku bertanya-tanya apakah Tora tidak pernah sadar bahwa sejak roda sepeda Raya hampir menabraknya, sejak uluran pertamanya untuk Raya, sejak senyumnya mengembang di depan mata Raya, sejak detik terakhir ia menoleh pada Raya ia telah membawa serta hati gadis itu pergi? Ah, bocah itu! Betapa bodohnya ia!
Lalu setiap kali aku mencaci pada senyap tentang kebodohan bocah itu, serta merta aku tersadar bahwa aku jauh lebih bodoh. Aku, selama itu, hanya diam menatap Raya dari sudut gelapku sendiri. Aku hanya bisa mengawasinya diam-diam. Aku hanya bisa menitipkan salam semangat lewat hembusan udara untuknya. Aku ingin mendekap erat dirinya, memeluknya agar ia tahu ia tak pernah sendiri. Tetapi tentu saja aku tidak akan pernah bisa. Untuk menjangkaunya atau bahkan sekedar membalas sentuhan lembut tangannya saja aku tidak bisa. Pelukan? Tentu saja, itu lebih tidak ingin kuberikan untuknya. Pelukanku hanya akan menyakitinya. Karena aku hanya sebatang kaktus yang tumbuh subur di halaman depan rumahnya. Ya, akulah sebatang kaktus yang hanya bisa mengamatimu dibalik tirai jendela kamar itu setiap hari, memperhatikanmu bersitatap dengan langit, menyaksikanmu merana menahan rindu yang tidak tau kapan akan terbalas. Ya, akulah si kaktus yang hanya bisa berdiri kaku menatapmu setiap hari.



0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates