Dibalik tirai jendela, terlihat dia yang sedang
menatap langit. Tidak begitu jelas. Embun-embun yang melapisi kaca membuat aku
hampir tidak mengenali wajah itu. Matanya masih bersitatap dengan langit yang
sedari tadi menumpahkan muatannya, membasahi setiap elemen semesta, membasahiku
yang masih berdiri di sini. Seperti biasa, aku hanya bisa menatapnya dalam
diamku. Aku ingin sekali menyapanya meski hanya sekedar say hello. Setidaknya
aku ingin dia benar-benar menyadari ada aku yang memperhatikannya dari dulu,
mengawasinya diam-diam. Tapi, Tuhan tidak mengijinkan itu terjadi.
Raya, nama gadis itu, wajahnya tidak terlalu cantik
dalam standarku. Dia hanya sedikit manis. Dua lesung pipi mungil akan membekas
di kedua sudut bibirnya kala ia tersenyum atau tertawa. Matanya tidak terlalu
lebar dan bulat. Alisnya melengkung membingkai kedua mata mungil itu. Lentik
bulu matanya akan memperlihatkan sisi lain indah dirinya saat ia memejamkan
mata atau sekedar berkedip. Dia tidak cantik, hanya sedikit manis. Tetapi,
bertahun seperti itu, faktanya aku selalu suka salah satu ciptaan Tangan Tuhan
itu.
Sedikit demi sedikit embun yang melapisi kaca mulai
meluntur ketika tangan Raya mengusapnya perlahan. Kini, aku bisa melihat dengan
cukup jelas rona wajah gadis itu. Dia masih saja menatap langit yang tampaknya
kini mulai mengabaikannya. Terkadang aku melihat tatapan gadis itu begitu tajam
kepada langit. Seolah menantang. Terkadang yang kudapati adalah tatapan pasrah,
seolah ia tidak tahu harus bagaimana melarang langit menumpahkan muatan setiap
hari. Tidak jarang aku menangkap gelombang rindu yang terpancar dari tatapan
matanya. Seolah langit sedang memutarkan sebuah film romantis di atas sana
untuknya. Tetapi saat kucoba mengikuti arah mata itu tertuju, seluas mataku
memandang yang ada hanya hamparan langit luas berwarna abu-abu, seperti saat
ini.
Lalu hari ini, sinar tatapan Raya kepada langit
memancarkan kerinduan. Kutengok langit di atas sana. Aku ingin tahu drama atau
film romantis macam apa yang dipertontonkan di sana. Kulirik lagi Raya yang
masih menyandarkan kepalanya pada lipatan tangannya sendiri dibalik kaca
sedikit berembun itu. Ah, aku tahu! Pasti bocah itu lagi. Pasti karena Tora.
Ya, tidak salah lagi! Aku tidak tahu bagaimana bocah seperti Tora itu bisa
begitu memporakporandakan khayalan Raya tentang rasa dan cinta. Ya tentu saja
aku tidak menduga sebelumnya. Aku sama sekali tidak menduga bahwa pertemuan
pertama mereka di depan mataku saat itu benar-benar berhasil menorehkan
semburat lain di hati Raya.
Pagi itu, Raya sedang bersepeda menuju rumahnya
ketika Tora berdiri di depan pagar rumah kami. Begitu belok, Raya hampir saja
menabrak bocah itu. Raya mengerem sepedanya sampai terdengar bunyi decitan yang
cukup memekakkan telinga. Sementara Tora dengan tenangnya menatap Raya. Raya
masih sibuk membersihkan kaos putihnya yang mulai terlihat lusuh akan tanah
yang menempel ketika sebuah tangan terulur di depan wajahnya. Tentu saja bukan
tanganku, tetapi tangan Tora. Selanjutnya aku tidak tahu topik macam apa yang
mereka perbincangkan. Yang aku tahu, sejak hari itu Raya tidak pernah berhenti
menatap langit saat gerimis atau hujan. Tebaklah apa yang ia minta. Hanya
sederet kalimat panjang : berhentilah hujan, agar Tora tidak perlu bersembunyi
darimu, agar Tora dengan mudahnya menemukan jalannya menujuku, agar Tora datang
lagi.
Tetapi meski langit mengalah dan menahan diri, Tora
tidak pernah datang lagi. Bahkan sekelebat bayangannya pun tidak. Tidak
terdengar kabar secuilpun. Seolah Tora benar-benar menghilang dari dunia ini.
Seolah Tora bukan bersembunyi dari hujan, tetapi ia bersembunyi dari dunia Raya.
Sementara itu Raya mulai terbiasa bersitatap dengan hujan, mencari celah
harapan agar pembawa hatinya kembali bertandang, mencari celah keajaiban bahwa
Tora memang tertulis dan tercipta untuknya. Seminggu, dua minggu, sebulan,
setahun, dua tahun, Tora tidak pernah lagi terlihat. Aku bertanya-tanya apakah
Tora tidak pernah sadar bahwa sejak roda sepeda Raya hampir menabraknya, sejak
uluran pertamanya untuk Raya, sejak senyumnya mengembang di depan mata Raya,
sejak detik terakhir ia menoleh pada Raya ia telah membawa serta hati gadis itu
pergi? Ah, bocah itu! Betapa bodohnya ia!
Lalu setiap kali aku mencaci pada senyap tentang
kebodohan bocah itu, serta merta aku tersadar bahwa aku jauh lebih bodoh. Aku,
selama itu, hanya diam menatap Raya dari sudut gelapku sendiri. Aku hanya bisa
mengawasinya diam-diam. Aku hanya bisa menitipkan salam semangat lewat hembusan
udara untuknya. Aku ingin mendekap erat dirinya, memeluknya agar ia tahu ia tak
pernah sendiri. Tetapi tentu saja aku tidak akan pernah bisa. Untuk menjangkaunya
atau bahkan sekedar membalas sentuhan lembut tangannya saja aku tidak bisa.
Pelukan? Tentu saja, itu lebih tidak ingin kuberikan untuknya. Pelukanku hanya
akan menyakitinya. Karena aku hanya sebatang kaktus yang tumbuh subur di
halaman depan rumahnya. Ya, akulah sebatang kaktus yang hanya bisa mengamatimu
dibalik tirai jendela kamar itu setiap hari, memperhatikanmu bersitatap dengan
langit, menyaksikanmu merana menahan rindu yang tidak tau kapan akan terbalas.
Ya, akulah si kaktus yang hanya bisa berdiri kaku menatapmu setiap hari.
0 komentar:
Posting Komentar