Gadis kecil itu menatap langit dari jendela
kamarnya. Kedua tangannya menopang dagu nya yang mungil. Wajahnya begitu pucat
dan dingin, tapi tidak dengan tatapan matanya. Kedua bola mata itu bak lampu
mercusuar yang selalu memberikan harapan bagi nelayan-nelayan yang tersesat di
gelapnya malam dan ganasnya lautan, yang selalu memancarkan secercah harapan
dan seutas kebahagiaan. Gadis kecil itu menatap takjub pada bintang-bintang
yang berkilauan di atas sana. Berdampingan dengan anggunnya sang rembulan.
Bentuknya hampir sempurna. Tak sabar bulan kecil menantikan fase tercantik dari
sang rembulan.
Hari sudah hampir tengah malam, tetapi kantuk belum
juga menghinggapi pelupuk matanya. Udara terasa sangat dingin, gadis itu
mengancingkan mantel nya hingga ketas. Gesekan sayap-sayap jangkrik di luar sana
menimbulkan nyanyian yang merdu. Krriikkk.. krriikkkk.. Krriikkk.. dan sang
katak pun tidak mau ketinggalan, mereka berpantun bersahut-sahutan. Dihitungnya
satu persatu permata yang bertaburan di langit itu, dan diulanginya
terus-menerus, dengan harapan agar kantuk segera menyergap. Dari kejauhan, di
langit sebelah timur tampak lah cahaya terang yang melesat dengan sangat
cepatnya. Ooh.. itu adalah sebuah bintang jatuh!! Refleks gadis kecil itu
memejamkan matanya dan mengucap sebuah doa “Tuhan andai aku bisa hidup lebih
lama untuk menghitung bintang dan mendengar mereka bernyanyi setiap malam”
Gadis kecil itu menderita Thalasemia Mayor, suatu
penyakit genetik yang diturunkan oleh kedua orangtuanya, penyakit dengan
kemungkinan harapan hidup yang terbatas. Dokter memvonis nya hanya bisa
bertahan hidup hingga usia 8 tahun. Ia harus rutin melakukan transfusi darah
untuk memperpanjang harapan hidupnya, tetapi karena kondisi ekonomi keluarga
nya yang morat marit, maka jarang sekali hal itu bisa dilakukan. Gadis kecil
itu hanya bisa pasrah akan kondisi hidupnya yang kadang dirasanya tak adil. Ia
hanya bisa berdoa agar Tuhan berbaik hati padanya dan memberikan umur yang
lebih panjang dari vonis dokter.
Gadis kecil itu menutup jendela kamarnya, mematikan
lampu dan segera merangsek masuk ke dalam selimut kumal nya. Dirasakannya nafas
nya mulai sesak dan tubuhnya terasa lemas sekali. Sudah 2 bulan ini ia absen
transfusi darah, obat-obatan pun sudah tak mau diminumnya, ia sembunyikan di
bawah kasur lipatnya. Gadis kecil itu mungkin sudah bosan dengan rasa pahit
obat-obatan itu. Disaat teman-teman sebaya nya bebas bermain, berlari, makan
permen berwarna warni seperti pelangi, ia lebih banyak harus berdiam diri di
rumah dan rutin minum obat. Ya, sudah sebulan ini bapak tersayang nya tidak
nukang, sehingga tidak bisa membiayai nya transfusi darah. Bapak tersayang nya
hanya bekerja serabutan, lebih sering sebagai kuli bangunan. Pekerjaan itu
terpaksa ia lakukan untuk menyambung hidup keluarga kecilnya. Penyakit TBC akut
yang diderita nya sejak 4 tahun lalu telah melemahkan fisiknya. Sehingga
pekerjaan itu dirasakannya cukup berat. Jasa nya sebagai pemetik buah kelapa
telah tergantikan oleh kelihaian monyet-monyet dalam memanjat pohon yang disewa
oleh pemilik kebun dengan bayaran yang cukup tinggi. Kalaupun masih ada pemilik
kebun yang mau memakai nya, ia diupah sangat rendah. Lebih rendah dari upah
monyet-monyet itu.
—
Gadis kecil itu membuka mata nya. Ternyata pagi
sudah menjelang. Pendar indah sang rembulan telah tergantikan oleh hangatnya
mentari pagi yang menyapa. Kicau burung dan kokok ayam dari luar jendela ramai
bersahut-sahutan. Baju tidurnya basah oleh keringat. Nafasnya tersengal-sengal.
dan tangannya dirasakan sedingin es. Hari ini sebetulnya ia malas sekali untuk bangkit
dari tempat tidurnya, tetapi ia paksakan karena tidak ingin membuat ibunda nya
khawatir. Ibunda yang sangat ia sayangi, yang selalu berdoa untuk kesembuhannya
di setiap akhir Shalat nya. yang menangis hampir setiap malam tatkala kondisi
putri kecil nya drop dan tidak ada biaya untuk berobat.
Gadis kecil itu pergi ke sumur di belakang rumah,
menimba air 1 ember kecil untuk nya menyikat gigi dan membasuh wajah. Sudah ia
putuskan, hari ini ia akan menjadi gadis kecil yang ceria dan selalu tersenyum.
Diintipnya Ibunda nya dari balik pintu, malaikat itu sedang meniup api di
tungku. sesekali ia terbatuk-batuk karena asap dari tungku itu. Dihampirinya
ibunda tersayangnya itu, Ia mencium pipi ibunda yang sudah nampak banyak
kerutan. “bulan sayang ibu” diucapkannya kata-kata itu sambil tersenyum dengan
sangat manis. Ibundanya mendekap erat putri kesayangannya itu. Gadis kecil itu
dapat mencium bau asap yang sangat menyengat dari baju ibundanya. Bau kerja
keras ibunya menyiapkan makanan untuk keluarga. Berkutat di dapur yang sempit
dan pengap. Bau kasih sayang seorang Ibu untuk keluarganya. “Ibu.. hari ini
bulan ingin dimanja seharian ya” pinta gadis kecil itu. ibundanya mencium
kening putri kecilnya, tanda menyetujui.
Malam ini cuaca sangat bagus. Sang purnama telah
mencapai fase tercantiknya. Masih setia berdampingan dengan bintang-bintang
kecil yang berkilauan di sekelilingnya. Katak dan jangkrik mengambil tempat nya
masing-masing dalam konser akbar malam ini. Angin membelai lembut dan
membisikkan nada-nada syahdu. Shymponi alam karya sang Maestro. Sang bunda
duduk di teras, di bawah naungan temaram sinar rembulan, dan gadis kecil
berbaring di pangkuan ibundanya. Mereka saling bercerita dan bersenandung. Sang
bunda bercerita, 8 tahun lalu saat bulan kecil akan lahir ke dunia, cuaca pun
sebagus ini. Itulah sebabnya putri kecil itu diberi nama “Rembulan”. Sang bunda
membelai lembut rambut sang putri kecil, menciumi kening nya dan mendekap erat
tubuhnya seakan tidak akan ada hari lain untuk melakukannya. Gadis kecil itu
merasakan nafasnya semakin sesak, tubuhnya dingin dan lidah nya kelu. Ia
menanggapi setiap cerita ibu nya hanya dengan anggukan dan senyuman. Tak terasa
air mata menetes membasahi pipinya. Ia menatap sang bunda dengan dalam dan
berkata “Ibu.. bulan masih ingin menghitung bintang…” dan gadis kecil itu pun
menutup mata untuk selamanya.
0 komentar:
Posting Komentar